Perverted Dexterity: Ngeband Sendirian dan Bikin Album Baru dengan Label Besar Amerika

img: facebook.com/pdbdm
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Musik Metal Indonesia agaknya sudah masuk kedalam peta utama persebaran Metal dunia. Kali ini publik Metal Indonesia harus bangga dengan keluarnya album Perverated Dexterity bertajuk “Spiritual Awakening” yang resmi dilempar kepasar sejak 17 November 2017 yang lalu, dibandrol seharga 10 USD/CD. Album yang dirilis Sevared Records ini merupakan pencapaian yang sangat penting untuk pengakuan musisi metal tanah air di dunia Internasional. Pasalnya Sevared Records merupakan label metal  yang cukup terpandang di Amerika Serikat. Perverated Dexterity berhasil menyusul pendahulunya Jasad, band Death Metal asal Bandung yang bernaung di label yang sama.

Band Brutal Death Metal asal kota Bekasi ini memang sangat aneh. Bagi yang belum tahu, band ini hanya berpersonilkan 1 orang. Namanya adalah Januaryo Hardi atau yang akrab disapa Aryo. Pada ulasan wawancaranya oleh metalmarch.com, Aryo mengaku lebih nyaman dengan kesendiriannya bermusik. Baginya cara tersebut membuatnya bebas menuangkan gagasan bermusik dan bisa berkreasi sebebas mungkin.

Debut album pertamanya yang berjudul “Primitive Scene of Inhumanity,” Aryo memang sangat terlihat terinfluence pada permainan extra cepat ala Disgorge, band Death Metal Amerika Serikat yang memang banyak mempengaruhi gaya bermusik band-band metal dunia.

Kembali ke album terbarunya. Di album ini, para pendengar pasti akan kaget dengan sound gitar maha berat yang digunakan. Style sound ala American Death Metal ini memang memberikan kesan bagi para pendengar kalau yang mereka dengarkan pastilah band death metal Amerika. Faktanya, hampir semua band besar keluaran Amerika mempunyai kemiripan sound yang nyaris sama. Kesan tersebut pula yang kami rasakan.

Meski track drum menggunakan software, namun tidak terlalu kentara. Hal ini diakuinya saat wawancara dengan Metal March 2015 silam saat dirinya didapuk menjadi headliner Bangcock Deathfest 2015 di Thailand. Proses mixing yang sempurna menjadikan album barunya ini terdengar seperti band utuh dengan personil lengkap. Untuk aransemen sedahsyat ini, Aryo pantas diacungi dua jempol. Dia pantas diberi gelar “insinyur” Death Metal Indonesia.

img: facebook.com/pdbdm/

Dengan aransemen ultra ngebut dari awal hingga akhir, Aryo seolah ingin membuktikan kembali bahwa jenis genre brutal blasting death metal masih tetap enak ditelinga metalheads ditengah gempuran metalcore, groovy death metal dan slamming death metal yang lagi trending akhir-akhir ini. Menurut kami, album ini mengingatkan kembali kejayaan death metal era 90-an yang menampilkan konten musik extra cepat, seperti Disgorge (USA), Cryptopsy (Canada), Deeds of Flesh (USA), maupun Nile (USA).

Baca Juga :  Youtube sebagai Media Alternative Musisi Indie

Simak lagu andalan yang sudah diunggah di channel Perverted Dexterity dibawah ini, kalian akan heran dengan ketukan snare drum virtual yang kedengaran tampak seperti sungguhan, begitu juga dengan suara beat dan simbalnya. Pantheon of Scornful Figuration merupakan judul lagu yang diunggah sebagai trailer album. Sound tebal dan berat dengan kecepatan jari-jarinya ditambah dengan growl ala Disgorge pasti akan membuat anda terheran-heran. Simpelnya anda mungkin akan bergumam: “ini pasti band luar.”

Dengan cover profesional yang didominasi warna hijau dengan motif lukisan iblis dan pepohonan tua, menjadikan album ini tampak lebih profesional. Album ini nyaris sempurna dan nyaris tidak terlihat kekurangan. Namun bagi sebagian besar pecinta musik death metal, genre blasting yang ultra ngebut memang terdengar monoton dan membosankan. Tapi buat kalian yang memang suka genre ngebut, kalian patut mengoleksi album ini.

Terakhir sebagai penutup, mungkin pembaca ingin mengetahui bagaimana cara Aryo mendesain lagu-lagunya serta memulai proses rekaman. Dari hasil wawancaranya dengan Pasukan Mati, Aryo menjelaskan bahwa dirinya pertama-tama mendesain drum dengan menggunakan software. Kemudian membuat irama gitar dengan software perekam agar mudah diingat untuk dijadikan sebuah lagu. Proses rekamannya pun hampir sama, setelah memasukan format drum virtual, Aryo lalu mengisi track bass, lalu gitar. Setelah aransemen jadi, dia pun merekam vocal seperti sedang berkaraoke. Jadi praksis semua dilakukan sendirian olehnya. Hebat bukan?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here