Pesan “Anarkisme” dalam Lagu Nemesis-nya Arch Enemy

img: metal-acrhive.com
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Banyak yang mengira membuat lirik lagu metal itu mudah, hanya tinggal tulis pemujaan setan atau tentang kematian, santet, kegelapan, kelar sudah.  Atau banyak yang berkesimpulan kalau lagu metal hanya sekedar teriak-teriak gak jelas. Buang pendapat anda karena artikel ini akan mengubur pendapat anda yang salah tersebut.

Nemesis merupakan judul lagu dari band Melodic Death Metal asal Swedia, Arch Enemy. Diambil dari album Doomsday Machine, yang merupakan album ke 6 yang di produksi tahun 2005. Meski terbilang bukan lagu baru, tapi hingga sekarang masih banyak yang mendengarkan lagu tersebut. Terbukti dengan penonton videonya di channel youtube Media Century yang mencapai angka 19 juta penonton. Lagu ini juga dirilis ulang dengan vocalis barunya, Alissa White Gluz yang menggantikan Angela Gossow.

Tidak seperti umumnya lirik lagu melodic death metal yang bersyair tentang kegelapan dan kematian, lagu Nemesis justru sarat dengan pesan politik seperti yang umum dituliskan band-band bergenre Grindcore ataupun Trash Metal.

Nemesis dalam mitilogi Yunani berarti Dewi Pembalasan. Seperti dikutip dalam buku “Mitologi Yunani” karangan Edith Hamilton, Nemesis merupakan  anak dari Putri Niks, yang berjuluk dewi malam. Nemesis sendiri dipercaya sebagai dewi keadilan, karena membalas perbuatan jahat untuk kebaikan.

Nemesis atau Dewi Pembalasan dalam Mitologi Yunani. Sumber foto dari cimec.ro

Kita kembali ke lagu. Sesuai dengan judulnya, lagu ini memang bertemakan perjuangan menuntut keadilan. Namun yang unik karena sarat akan pesan dari idiologi tertentu, yakni Anarkisme. Seperti dikutip dari anarkis.org, pengertian anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan anarki, atau ketiadaan tuan, tanpa raja yang berkuasa. Lebih lanjut, seorang anarkis, L. Susan Brown menuliskan:

“Meskipun pemahaman umum mengenai anarkisme adalah sebuah gerakan anti-negara yang penuh dengan kekerasan, anarkisme adalah sebuah tradisi yang bernuansa lebih dalam daripada sekadar perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah. Kaum anarkis menentang pemikiran bahwa masyarakat membutuhkan kekuasaan dan dominasi, dan malah membela bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang anti-hierarkis dan lebih kooperatif. (The Politics of Individualism, hal. 106)

Dalam bait pertama lirik lagunya, sang gitaris sekaligus pendiri, Christopher Ammott menuliskan:

We walk this Earth,

With fire in our hands,

Eye for an eye,

We are Nemesis

Dari bait pertama sudah tergambarkan kemarahan suatu kelompok yang terpinggirkan, yang terlukis dengan api ditangan, yang menuntut keadilan dan menamakan kelompoknya sebagai Nemesis. Mari kita simak bait berikutnya:

We are with you

Countless vicious souls

Fight! – Fighting for freedom

United we stand 

Sebuah ciri dari perjuangan yang terorganisir adalah dengan banyaknya pengikut. Dari bait kedua si penulis menggambarkan bahwa mereka berada dalam satu barisan yang sama dengan jumlah orang yang tak terhitung jumlahnya. Ada seruan politik, yakni berserikat atau berkelompok (organisasi) untuk bertarung mewujudkan keadilan.  Kemudia dibait berikutnya:

We are legion

Voice of anarchy

This is revolution

Creating new disorder 

Nah, dibait ketiga ini semakin jelas identitas politik dari tema lagunya. Si penulis tampaknya ingin menyuarakan aspirasi kaum anarki. Dia mengatakan kalau ini revolusi, dengan menciptakan gangguan-gangguan. Mungkin yang dimaksud penulis adalah Aksi-aksi demonstrasi, seperti aksi-aksi massa kaum anarko di Seatlle Amerika Serikat atau seperti demonstrasi Anti Trump yang di pelopori oleh kaum anarko Amerika Serikat.

Lalu dibagian reff adalah seruan terakhirnya, yang diulang-ulang sekan-akan inilah kunci kekuatan dari lirik tersebut. Berikut bait reff nya:

One for all – All for one

We are strong – We are one

Nemesis 

Satu untuk semua, semua untuk satu, Kita kuat, kita satu, Nemesis. Setiap slogan perjuangan memang akrab dengan kata persatuan, tak terkecuali pada varian anarkisme. Meski cukup mudah dimengerti, namun menulis dan mempopulerkan lagu dengan lirik yang provokatif tersebut tidaklah mudah.

Apalagi band ini bernaung di label raksasa seperti Century Media.  Lagu penuh luapan emosi ini terkadang bisa saja mengundang kerusuhan sosial karena bisa menginspirasi kelompok tertentu. Apalagi jika di Indonesia, istilah “Anarkisme” sudah terdistorsi maknanya hingga diartikan sekedar “kerusuhan.” Namun tentu saja kita berharap lagu ini hanya luapan hati si penulis saja, bukan seruan untuk membuat kerusuhan sosial.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here