Synchronize Festival, Lebarannya Anak Indie!

img: synchronizefestival.com
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Hampir satu bulan yang lalu dihelat, Synchronize Festival 2017 masih memberikan kesan yang tak terlupakan. Terhitung sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009, ini merupakan tahun ke-8 penyelenggaraan mereka.

Festival yang disebut-sebut sebagai “lebaran” musik indie ini seakan-akan mengobati dahaga akan sebuah festival musik yang penuh warna dan kualitas musik kelas atas tentunya. Tak tanggung-tanggung beragam genre musik hadir disini. Tak peduli kamu seorang anak metal yang doyan headbang ataupun penonton payung teduh yang menikmati musik sambil duduk menikmati lantunan lagu yang syahdu. Mereka semua melebur menjadi satu atas dasar yang sama : menikmati musik yang berkualitas. Ya, setelah beberapa tahun belakangan “digempur” oleh musik EDM. Synchronize festival hadir bagaikan oase di padang pasir.

image via gentlemancode.id
image via gentlemancode.id

Menampilkan lebih dari 100 musisi dengan 5 panggung berbeda serta 3 hari penyelenggaraan berturut-turut membuat acara ini sebagai salah satu festival musik terbesar tahun ini. Berbagai genre musik indie dihadirkan disini. Pop, folk, alternatif, rock, metal dapat disaksikan. Mulai dari The sigit, Superman Is Dead, Silampukau, Seringai, Tulus, Efek rumah kaca, hingga band legendaris Slank datang silih berganti menghibur penonton yang datang ke arena Jiexpo Kemayoran.

Dari 3 hari penyelenggaraan festival beberapa musisi tampil memukau dan mencuri perhatian. Di hari pertama dibuka oleh penampilan brilian The sigit yang seolah menyulutkan bensin dengan percikan korek api sehingga membakar semangat para penonton yang datang. Rekti Yoewono tampil sangat garang namun tetap elegan dengan kaos belang-belang dan black jeans yang sedikit cutbrai. Seketika dinyanyikan lagu andalan mereka seperti “live in new york”, “new generation” dan “black amplifier” tanpa sadar penonton hanyut terbawa suasana.

Selanjutnya di panggung lainnya Navicula datang dari Bali dengan harapan dapat menghibur melalui lagu-lagu mereka. Band yang sangat concern terhadap isu lingkungan dan kritik tajam terhadap pemerintah ini mampu menggetarkan jiwa melalui suara berat sang vokalis Gede Robi dan lengkingan melodi gitar dankie yang sungguh menyayat jiwa. Lagu andalan seperti “mafia hukum”, “aku bukan mesin” dan “saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti”.

Setelah itu musisi seperti mocca, barasuara, tulus dan HiVi bergantian mengisi sekaligus menghibur para penikmat musik sebelum pada penghujung acara diakhiri oleh Superman Is Dead dan Efek Rumah Kaca yang harus “berebut” penonton. Kedua band papan atas tersebut menjadi penutup acara pada hari pertama. Meskipun ERK tanpa Kholil sang vokalis tidak mengurangi animo penonton untuk menyaksikan aksi panggung mereka. Untuk mengisi kekosongan Kholil mereka menyiasati dengan mengundang vokalis lain guna menambal kekosongan tersebut. Iga Massardi dari barasuara dan Robi Navicula ditunjuk sebagai salah satu pengisi vokal dan hasilnya : pecah! SID harus merelakan gempita panggung mereka seolah direbut pada malam itu.

Baca Juga :  Youtube sebagai Media Alternative Musisi Indie

Pada hari kedua penyelenggaraan line up berisi lebih beragam dan multigenre. Mulai dari Bangkutaman, Adhitya Sofyan, Float, Pee Wee Gaskin, duo Jason Ranti, The Adams, om Tony Q, fourtwnty hingga orkes musik Pengantar Minum Racun yang dikomandoi oleh Joni Iskandar.

Dan puncak acara adalah hari terakhir dimana menjadi hari terakhir penyelenggaraan menghadirkan Mondo gascaro, Monkey to millionaire, Sisitipsi, Club Eighties, Danilla, Silampukau, duo Endah n Rhesa, Seringai dan ditutup dengan apik oleh Slank dan Glenn Fredly yang masing-masing membawakan tembang lawas mereka pada era 90an seperti “tonk kosong”, “terlalu manis” dan “bimbim jangan menangis”. Selain itu glenn juga tampil memukau pada synchronize festival tahun ini dengan membawakan lagu “Hikayat cintaku” dengan arransemen sedikit unik yang agak sedikit dangdut. Dan juga tampil kolaborasi dengan Mondo Gascaro membawakan lagu “akhir cerita cinta”.

Secara keseluruhan Synchronize Festival 2017 berhasil memberikan tontonan berkualitas kepada penikmat musik di tanah air. Tata panggung, kurasi musisi juga pengaturan jadwal konser yang sangat baik. Semua genre musik di hadirkan dalam satu acara besar dan juga sekaligus  memberikan jawaban atas pertanyaan : apakah musik indie di Indonesia cukup “hidup”? Synchronize Festival menjadi salah satu jalan untuk terus merawat identitas musik dan keberagaman musik di tanah air.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here